Feeds:
Pos
Komentar

“Setiap pertemu…

“Setiap pertemuan sudah digariskan Tuhan. Dan hargailah setiap orang yang pernah kita kenal. Karena mereka diutus Tuhan untuk kita bukan tanpa alasan”

Ayah

Ayah adalah orang yang pertama memperdengarkan azan & iqomat padaku

Ayah adalah imamku

Ayah adalah orang yang rela bekerja keras  untuk kehidupanku

Ayah adalah pejuangku

Ayah adalah orang yang pertama maju untuk melindungiku

Ayah adalah pahlawanku

 

Saat ini aku rindu pada Ayah

Ingin berada di sisinya sambil mendengar ceritanya

Saat ini aku rindu pada Ayah

Ingin berada di sisinya sambil bersenda gurau dengannya

 

Ayah, maafkan aku yang mungkin sering membuat hatimu terluka karena

ucapan atau tingkah lakuku

Ayah, maafkan aku yang selalu hadir di pikiranmu, karena Ayah selalu

khawatir dan selalu memikirkan kami anak-anakmu

 

Ayah, terima kasih atas perhatian yang selalu kau curahkan padaku dari lahir

sampai saat ini

Ayah, terima kasih atas dekapan erat yang kau berikan pada saat aku sedih,

takut dan sakit

 

Ya Allah, ku mohon limpahkan kasih sayang pada Ayahku sebagaimana Ayah

menyayangi aku sedari kecil

 

Bandung, 25 Februari 2011

Santri

Ibu

Ibumu Ibumu Ibumu

Kemudian baru Ayahmu

Begitu pesan Rasulullah SAW

Ibu yang bersusah payah mengandung kita

Ibu yang meregang nyawa saat melahirkan kita

Ibu yang dengan sabarnya menyusui kita

Setelah aku merasakan menjadi seorang ibu

Makin aku mencintai Ibu

Makin aku rindu pada Ibu

Makin aku mengakui kesalahan2ku pada Ibu

Maafkan aku Ibu

Mungkin banyak kata-kata atau tindakanku yang membuat hatimu tergores

Maafkan aku Ibu

Mungkin aku belum maksimal menjadi anak sholeh harapan Ibu

Saat ini

Aku rindu pada Ibu

Saat ini

Aku ingin duduk dekat2 Ibu

Saat ini

Aku ingin memeluk Ibu

Dan aku tak akan berhenti berusaha menjadi anak sholeh seperti harapan Ibu

Dan aku tak akan berhenti mengajarkan kebaikan hidup pada anakku seperti

yg Ibu ajarkan padaku

 

Ya Allah, ku mohon sayangilah Ibuku sebagaimana beliau menyayangiku

semenjak dalam kandungan sampai saat ini.

 

Bandung, 23 Februari 2011

Santri

*to be continued : Ayah

Resep Cinta

Komunikasi yg baik, hati yg lurus, cinta yg tulus ikhlas, harusnya bisa menjadi modal utk suami istri mempertahankan cinta.

Saling peduli, saling mengerti dan berempati.

Jadikanlah pasangan kita sahabat sejati seumur hidup.

Dan pagarilah dg Iman pada Allah SWT.

Cintai pasangan,karena Cinta Pada Allah SWT

After 17 years

Setelah 17 tahun berlalu

Sekarang baru gw tau

Sakit itu bukan hanya milik gw seorang

Sumpah gw ga tau

Sumpah gw ga bermaksud nyakitin loe

17 tahun yang lalu

Gw ikhlasin semua

Agar loe tetap jadi anak nurut

So, gw balik kanan demi  kebaikan masa depan loe

Biar gw tata hati gw sendiri

Gw ikhlas kok

Gw pikir loe baik2 saja

Ternyata semua hal itu terjawab setelah 17 tahun

Gw inget 11 thn yll, loe kenalin gw sama ortu loe

Loe ga ngomong apa2

10 thn yll loe tlp gw, cerita banyak, tapi loe ga ngomong apa2

6 tahun yll loe tlp gw, loe curhat dan bikin gw stress

But keadaan sudah berbeda

Gw desak loe utk meraih masa depan loe

Dan loe berhak bahagia seperti yg lain

Gw selalu doakan loe agar bahagia

Dan gw harap loe maafin gw

Dan gw harap loe bahagia selamanya dunia akhirat

Gw jadi inget kalimat di film Alexandria…kira2 begini  kalimatnya Alex  said : “Bagas, kalo loe cinta sama seseorang…bilang!”

alexandria : pas bener ni film ama cerita gw...kok bisa yaa...peterpan lagi bikin theme song nya. :)

Beban yg berat bila disimpan selama berpuluh tahun

Karena gw inget selalu bagaimana loe pengen kenal gw 21 tahun yll

Rada2 norak…but lucu aja, pengen tau nama gw dg nunggu gw tandatangan absen LOL

Thanks udah bikin kenangan indah di hidup gw

Thanks atas perhatian loe nemenin gw naik bus pergi dan pulang les

Thanks atas lagu Untukmu Tito dan NKOTB

Thanks atas soal2 utk persiapan UMPTN

Thanks atas kunjungan mendadak loe masuk ke sekolah gw

Thanks atas kartu ucapan biru krn kelulusan gw keterima di Ganeca 10

Thanks atas sticker nama gw yg loe tempel di pintu kamar loe

Thanks atas surat2 loe yg berisi kalimat penyemangat dan doa

Thanks atas kunjungan loe libur ke Bdg

Thanks atas jalan2 di Bgr

Thanks atas kunjungan loe tiba2 ke kostan gw saat gw ingat loe

Thanks atas lagu Modulus Band, Yesterday dan Eternal Flame

Thanks atas dukungan loe yg ga henti2nya buat kesuksesan hidup gw

Dan masih banyak lagi…..perlu berlembar2 kertas utk menulisnya

Anyway

Gw happy bersama dia yg gw pilih

Gw harap loe jg happy bersamanya

We can be best friend forever

Dan gw harap loe ga marah sama dia, coz, dia ga punya salah apa2

Dia baek banget

He raised me up after my broken heart

Dia sangat2x tau gimana sakitnya gw

Dia ga punya salah apa2

Yang salah kita berdua

Mengambil keputusan masing2 tanpa ada komunikasi

So…inilah jalan yg sudah kita pilih

No hurts feeling anymore

Thanks for sweet memories

Cheer up!

Hope you’ll be happily ever after

Coz, we have to!

Bener juga lagu itu…1st love never die…LOL

Wajarlah, semua orang punya masa lalu

Kalo ada yg jual obat penghilang memory laris tuuu🙂

Enjoy your life ^_^

Cinta Sederhana

Bagai oase di padang pasir
Menyegarkan dan menyejukkan

Tidak memaksamu untuk jadi orang lain
Berusaha mengerti dirimu

Ikhlas

Begitupun dirimu padaku

The Simply Fresh

Simply Fresh Love

Cinta yang segar dan menyejukkan
Cinta sederhana

Ibu Mukenah sedang tekun menjahit tali mukenah

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Surat Az-Zalzalah (99) ayat 1 – 8 :

1. Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,

2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,

3. dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?”

4. Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,

5. karena sesungguhnya Tuhan-mu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya.

6. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya.

7. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya,

8. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

Saya jadi teringat ayat ke 7 dari Surat Az-Zalzalah ini, karena kemarin sore bertemu dengan seorang
ibu, bernama Ibu Suminarsih, di Mesjid PUSDAI Bandung. Setelah berwudhu untuk melaksanakan sholat ashar, saya melintas di depan seorang wanita paruh baya yang sedang menjahit tali mukenah dengan tekun sembari duduk di anak tangga mesjid. Saya terpaku melihat beliau yang sangat fokus menjahit tali mukenah, tiap tikaman jarum dan tarikan benang yang dia alunkan diatas tali mukenah itu, diiringi dengan ekspresi wajah yang tulus. Tidak terlihat sedikitpun pancaran kesulitan hidup yang dia hadapi. Sang ibu sadar bahwa dirinya sedang diamati dengan seksama oleh saya, beliau melayangkan senyum indah dengan mata yang berbinar menyipit ke arah saya. Hal itu malah membuat saya jadi menghela nafas berat, demi menahan gulungan air mata yang siap-siap pecah membobol kelopak mata ini karena melihat wajah tulus beliau.

Saya membalas senyum beliau dan segera berlalu menuju sajadah merah. Saya memilih saf kedua sembari memakai mukenah bersih dan cukup wangi, yang sudah saya pilih di lemari mukenah. Setelah menutup dengan doa, saya melipat mukenah dan segera menyimpannya di lemari mukenah, dimana posisi lemari itu berada di seberang anak tangga, tempat Ibu Mukenah sedang menjahit tali mukenah yang lepas. Ekspresi wajahnya masih sama dengan beberapa menit yang lalu, masih menjahit dengan tekun. Saya tidak bisa menahan diri untuk segera berlalu menuju parkir mobil, otak dan hati ini sangat kuat memaksa kaki dan mata saya untuk menghampiri Ibu Mukenah itu.

“Ibu…lagi apa?” tanya saya kikuk memulai percakapan dan berusaha menutupi kekikukkan itu dengan cara mengambil tempat duduk persis di sebelah kiri Ibu Mukenah. “Pertanyaan yang bodoh!” kata hati saya. “Anak playgroup juga sudah tahu kalau Ibu Mukenah sedang menjahit,” kata hati saya lagi. Hihihihi….emang kikuk siiiih.
“Tadi ada yang menyumbangkan mukenah, tetapi tidak ada talinya neng, jadi ibu tambahin tali biar bisa dipake untuk bermacam ukuran kepala,” jawab si Ibu Mukenah dengan tetap FULL SENYUM dan WAJAH HANGAT BERSAHABAT. Di otak dan mulut saya sudah berpacu puluhan kata yang ingin disampaikan pada Ibu Mukenah. Tenaaaaaaaaang tenaaaaaaaaaaaang Santri…..slow down.🙂

“Ibu kerja disini?” tanya saya. “Iya neng, ibu mah sehari-hari menunggu mukenah di mesjid ini,” jawab si ibu. “Hmmmm…DKM Pusdai sekarang mantap yaaaa, kamar mandinya makin keren dan bersih, ” ujar saya. “Alhamdulillah neng, makin bagus dan rapi,” tambah si ibu sambil tetap menjahit tali mukenah. “Ibu umurnya berapa?”tanya saya lagi (pengen tauuu aja deeeh kata hati saya :D). “Ibu mah kelahiran 1962 neng,” jawab si ibu. “Anaknya berapa bu?” tanya saya lagi SKSD (sok kenal sok dekat) lagiii😀. “Anak ibu ada 5 orang,” balas si ibu masih sambil menjahit.
“Bu, ngomong-ngomong nama ibu siapa?” tanya saya malu (harusnya ini kalimat yang pertama ditanyakan kalau mengenal orang, hehehe….maklumlah…saya emang tipe acak adul dan tidak fokus…suka tidak berurutan…karena sangking penuhnya pertanyaan di otak…biasa ngeleeees….padahal emang lemah dalam Tata Bahasa Indonesia dan selalu di-edit oleh adik saya kalau menyusun kalimat…hihi….ampuuuun deeeh masa’ waktu kuliah Mata Kuliah TPB Bahasa Indonesia di – “her” alias ujian ulang dan akhirnya dapat nilai C, dan miriiiis dengan nilai bahasa lain….jomplang😛 …. Pleaseee deeeeh Santriiii….kembali ke Benang Merah! *OVJ mode on* LOL
“Suminarsih,”jawab si ibu senyum-senyum malu.
“Bu, boleh saya foto sama ibu?”tanya saya sok teuuu bangets dah. Si ibu langsung berpose tegang menjawab pertanyaan saya, berhenti sejenak menjahit. Maaaaaf ya Bu. Saya jadi mengganggu kegiatan ibu. Maaaf sekali, belum tersampaikan kemarin tuuuh karena senangnya bisa berkenalan dengan Ibu Mukenah.
“Neng masih kuliah?”tanya si ibu langsung sambil langsung otomatis melanjutkan jahitannya. WOOOOOOW! Ooooooh bahagianya gue dibilang masih kuliah. Buuuuu….mau ditraktir dimana??? Sate Shinta seberang mau? hehehehe…..Oooooh melayang melayang….HOI! Sadar Santri! Kembali keeeeeee TULISAN! *Bukan 4 Mata mode on*
“Hehehe…Bu, saya udah punya anak,” papar saya dengan tersipu-sipu kaya’ ikan sapu-sapu:D
“Ini juga mau ke rumah temen nawarin dagangan, dan selanjutnya pulang, anak saya menunggu di rumah,” curhat saya ke si ibu (Looo kok gue yang curhat??? teeeerrrrlaaaaluuuu *geleng-geleng mode on*.
“Ooo begitu,”balas si ibu sambil terus melanjutkan menjahit. Hmmm si ibu sebenarnya cuma menyenangkan hati saya, dengan kalimat “Neng masih kuliah?” hehehe…karena si ibu tidak kaget saya bilang sudah punya anak. Huahahahah….GR guee.

“Bu,saya jadi belajar ke ibu,betapa kita harus tulus ikhlas melakukan kebaikan sekecil apapun,”papar saya ke si ibu dengan saya juga merasa aneh….kok ujug-ujug kalimat ini keluar yaaa…???
“Bahwa hal baik sekecil apapun, bila dilakukan dengan tulus ikhlas, InsyaAllah akan dinilai oleh Allah SWT. Wallahua’lam,”papar saya lagi sok teu dan sok tuwir, tapi kalimat ini saya sampaikan pada diri saya sendiri kok. “Lagi menasehati diri saya sendiri bu,”lanjut saya pada si ibu sambil akhirnya air itu pecah mendobrak kelopak mata saya. “Terima kasih bu,”kata saya sambil pamit dan lari menuju kamar mandi mesjid. Saya maluuuuu….saya membasuh muka sambil berpikir.

Saya malu pada Allah SWT. Saya malu pada Ibu Mukenah. Masih banyak yang harus saya pelajari dan masih banyak PR buat pengayaan diri saya sendiri sebagai hamba Allah, masih banyak PR saya sebagai umat Rasul Allah, masih banyak PR saya sebagai anak, masih banyak PR saya sebagai istri, masih banyak PR saya sebagai ibu, masih banyak PR saya sebagai adik, sebagai kakak, sebagai sahabat, sebagai tetangga, sebagai pembimbing asisten saya, – sebagai seorang manusia yang dilahirkan ke dunia ini yang membawa Visi dan Misi dari Sang Pencipta Sang Khalik, dimana kita sudah menekan”SURAT PERJANJIAN” dengan Allah SWT sebelum dilahirkan ke dunia fana ini. Menjadi Khalifah, yang sudah ditetapkan umur, rejeki dan jodohnya, dengan bekal Ruh dan Otak yang Harus dipagari Al-Qur’an serta Sunnah Rasul Allah, Rukun Iman dan Rukun Islam. Memang ilmu yang saya punya masih sedikit, saya akui itu. Saya ingin memperbaiki diri detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Karena, saya tidak tahu, sampai kapan “JATAH” umur yang sudah saya “tanda tangani” di “SURAT PERJANJIAN” dengan Sang Khalik Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Saya selalu bertekad untuk menjadi “wanna be good person for everyone”, walau terkadang, saya bermaksud baik belum tentu diterima baik oleh orang lain. Bak kata pepatah “Kepala sama hitam, pikiran berbeda-beda”. Jadi bila ada yang salah tangkap dengan maksud kebaikan kita, tidak usah sedih, kembali saja ke niat awal, “Ingin menjadi orang yang baik buat semua orang”. Jadiiiii No hurts feeling….ikhlas tulus….Lillahita’ala. Wallahua’lam.
Cheer up! Full Senyum seperti Ibu Mukenah. Melakukan segala sesuatu dengan tulus ikhlas. Cukup Allah SWT saja yang menilai.

Oh ya Terima kasih Ibu Mukenah, sudah menginspirasi POSITIF kepada saya. Dan sempat saya tanya, mau tidak ibu saya kenalkan dengan teman artis untuk masuk TV menginspirasi orang lain dari kisah Ibu Mukenah, misalnya acara “Tangan Di Atas”, tetapi si ibunya maluuuuuu katanya. Mungkin setelah tulisan saya ini, ada teman-teman TV yang terinspirasi dengan cerita Ibu Mukenah. Agar acara-acara TV Indonesia lebih berbobot dan mendidik, sehingga masyarakat makin Cerdas, Kreatif dan Pantang Menyerah. Hidup baik dunia dan akhirat. Amin Ya Rabb.

Terima kasih juga buat DKM Mesjid PUSDAI, sudah memberi lapangan pekerjaan buat Ibu Mukenah dan hmmmm kamar mandi, tempat wudhu makin keren dan rapi looo…wizzzz…pake kaca dimana2…disain yang bagus deh…kamar mandi dan tempat wudhu yang nyaman.
OK, Semangaaaaaaaaaaaatssss!

NB : Sorry yaaa teman2 kalo kalimatnya acak adul….ya begitulah saya, lemah sekali dalam tata bahasa. hehe….Tapi seneng bercerita, jadi gini deeeh kalimatnya suka rada-rada keluar jalur….benang merah suka kabur jadi warna lain.😀